Melihat Kedamaian Kampunglaut…
Anda pernah dengar Pulau Nusakambangan? Hiiiiii…..sereeemmm! Sebagian orang mungkin menganggap Nusakambangan adalah tempat yang paling serem dari tempat yang ada di film-film horor. Seperti makam Jeruk Purut, Terowongan Casablanka, dll. Seremnya Nusakambangan bukan karena hantunya yang bergentayangan dan dan menggit serta membunuh orang. Padahal, di dana suasananay begitu damai dan menenangkan setiap orangyang berada di situ (tapi yang bukan penjahat lho…)
Seremnya Nusakambangan lebih karena Pulau di Selatan Kota Cilacap itu lantaran tempat menampung penjahat-penjahat kelas kakap. Mereka yang menjadi tersangka pembunuhan, korupsi, terorisme hingga kasus narkoba. Banyak sudah yang emnjadi ”alumni” LP P Nusakambangan. Sebut saja Tommy Suharto dengan kasus pembunuhan Jaksa Agung. Bob Hasan dengan kasus pembalakan hutan di daerah Kalimantan, Jonindo kasus pembunuhan puluhan tahun yang lalu. Amrozi CS yang dihukum mati karena kasus pengeboman di Bali tahun 2002 lalu. Masih banyak lagi.
Nusakambangan memang menjadi ikon LP paling serem di tanah air. Selain tempatnya yang jauh dari mana-mana, Nusakambangan juga berupa hutan belantara. Apalagi LP-nya begitu dekat dekat denagn pantai, jadi sangat sulit untuk dijangkau oleh napi yang mau kabur. Jadi, napi yang sudah masuk ke Nusakambanagn jangan harap untuk bisa kabur dari sana sebab, kanan kiri, depan belakangnya adalah laut. Sebelah selatan sudah jelas adalah Samudra Hindia. Sebelah Utara merupakan Laguna Segara Anakan, Sebelah barat adalah perbatasan dengan Kabupaten Jawa Barat, tepatnya Majingklak/Kalipucang, Kabupaten Ciamis. Sebelah timur sendiri adalah jalur pelayaran sepanjang arah Samudra Hindia. Jadi, jarang-jarang napi yang kabur bisa ”selamat”.
Berbicara Nusakambangan tentu yang ada di benak kita adalah suasana tempat yang seram penuh dengan penjahat-penjahat kelas kakap. Tapi pernahkan Anda mendengar Kampunglaut? Jika belum pernah mendengar, maka kini Anda harus tahu, paling tidak tahu Kampunglaut seperti apa.
Ujungalang, Kampunglaut
Kampunglaut adalah nama sebuah kecamatan yang berada di sebelah ujung barat Pulau Nusakambangan. Tepatnya di Desa Klaces. Kampunglaut memiliki 4 kelurahan atau desa. Masing-masing adalah: Desa Ujungalang, Desa Ujung Gagak/ Karang Anyar, Desa Panikel, dan Desa Klaces yang menjadi pusat kecamatan Kampunglaut.
Kampunglaut dapat ditempuh melalui darat dan laut. Jika mellaui darta, maka bisa menggunakan jalur dari pelabuhan penyebrangan Tanjung Intan atau Pelabuhan Batre yang menuju ke Pulau Nusakambangan. Jaraknya sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor. Adapun jalur laut dapat menggunakan Compreng. Compreng ada trayek kapal denagn muatan orang kurang lebih 30 penumpang. Jika hendak ke Kampunglaut, kita bisa menggunakan Compreng tersebut dengan jarak 2 jam dari pelabuhan Seleko Cilacap.
Dari Pelabuhan Seleko menuju ke Kampunglaut Anda akan melintasi sepanjang kaki bukit Pulau Nusakambangan serta perairan Laguna Segara Anakan. Di kapal Anda akan melihat pula eloknya hutan bakau yang tumbuh di kawasan Segara Anakan. Anda juga akan melewati sebuah Desa sebelum sampai di Kampunglaut (Desa Klaces), nama desanya adalah Desa Ujungalang (tempat di mana Rasno lahir).
Desa Ujungalang merupakan desa yang terbesar dari empat desa yang ada di Kampunglaut. Kira-kira penduduknya sekitar 1500 jiwa. Itu pun belum termasuk mereka yang berada di desa Ujungalang alisa merantau.
Selain desa Ujungalang, ada juga Desa Ujung Gagak/Karanganyar. Jarang desa Ujung gagak dari Ujungalang sekitar 45 menit dengan menggunakan perahu atau kapal. Ujungalang merupakan desa yang saat sudah menyatu dengan Kota Cilacap denagan melalui daratan Bantarsari. Meski sudah menyatu dengan daratan Cilacap, Ujung Gagak tetap masih kesulitan air. Hal ini karenan Ujung Gagak letaknya yang menjorok ke utara dari Pulau Nusakambangan sehingga sangat kesulitan untuk akses air. Sedangkan sumber air yang ada di Pulau Nusakambangan ada di dekat Desa Klaces yang memang bertempat di pulau Nusakambangan, dan Ujungalang. Yang jaraknya 50 meter dari Sumber Air Nusakambnagan. Sedangkan Desa Panikel berada di sebelah utara menjorok ke barat Desa Ujung Gagak.
Ujungalang, Kampunglaut
Kampung Seafood penuh gizi dan protein tinggi
Berhubung Rasno lahir dan tinggal di Ujungalang, maka saya akan menceritakan Desa Ujungalang. Desa Ujungalang berada tepat di tengah-tengan Laguna Segara Anakan Cilacap. Di utara Pulau Nusakambangan. Kalau orang tua dulu bilang, turu kampilan banyu, selimutan barat. Artinya tidur berbantalkan air, selimutan angin. Ya, secara geografis memang Ujungalang berada di tengah-tengah air. Ke selatan Pulau Nusakambangan, ke utara segara Anakan deng hutan bakau yang lebat. Ke barat, perairan menuju Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Ke timur, perairan menuju ke Cilacap.
Dinamakan Ujungalang karena desa Ujungalang berada dalam keadaan malang-malang (melintang). Desa Ujungalang sering disebut juga Mutean. Mutean ini ada beberapa versi. Pertama, Mutean berasal dari kata Mutiara. Karena dulu memang di kawasan Kampungkaut banyak simping dan kerang tempat dimana mutiara terdapat. Versi kedua ialah Mutean berasal dari kata Mutih. Dimana dulu ada sekelompok kiyai dari Jepara yang singgah di Ujungalang dan berakhir di Goa Masigit Sela Nusakambangan.
Di sini, kita bisa menikmati seafood dengan kaya akan proten dan gizi yang tinggi. Mulai kerang Totok, Kepiting, Udang (ada udang peci, jerbung, krosok dll), ikan Belanak, Ikan Susurwedi, Ikan Boso, ikan Bucu dan lain-lain.
Ada juga ikan asin yang tanpa bahan pengawet sedikit pun. Karena memang pengasinannya 100% mengguankan garam. Wajar kalau ikan asin belanak yang ada sangat asin, hal itu agar minyak ikan belanak yang terkandung tidak hilang. Serta menjaga gizi dan protein ikan agar tetap ada. Sehingga, kita pun perlu merendam dulu ikan asin agar rasanya tidak terlalu asin ketika digoreng.
Setiap menjelang musim hujan atau pas musim pelabuh (musim hujan di bulan September-Oktober, Desember hingga Januari), musim udang sudah mulai ada, terutama udang kerosok dan peci. Nelayan setempat menggunakan jaring dan Apong dalam mencari udang. Sedangkan untuk kepiting menggunakan Wadong, pintur dan jaring Sirang atau jaring kepiting. Untuk Wadong dan Pintur sendiri dibuat dari bambu denagn menyertai jebakan yang di dalamnya terdapat etmpat umpan kepiting berupa ikan yang sudah dibusukkan.
Sedangkan pintur sama denagn Wadong, hanya saja Pintur bentuknya bulat dan di bawahnya terdapat jaring untuk menjaga agar kepiting bisa terjebak di dalamnya. Cara pemasangannya pun berbeda antara Pintur dan Wadong. Wadong dipasang pada saat air surut dan diangkat ketika air surut lagi, sedangkan Pintur dipasang ketika air pasang dan bisa diangkat sewaktu-waktu. Kalau Wadong terkadang sampai sehari atau satu malam baru diangkat.
Berjalan ke Goa-Goa
Di samping wisata kuliner seafood dengan berbagai ikean, udang kerang dan kepiting, di Ujungalang juga kita bisa berjalan-jalan ke bebrapa Goa yang ada di Nusakambangan, diantaranya Goa Masigit Sela, Goa Semar, Goa Batu Lawang, Goa Maria, Goa Pintu Gerbang dll. Di sana kita bisa menikmati kelapa muda dengan harga yang sangat ekonomis, Rp 1000 per buah. Menghilangkan dahaga dengan harga yang cukup murah, bukan? Sedangkan di Goa Masigit Sela, kita bisa melihat tempat-tempat yang pernah disinggahi oelh mantan Presiden Sukarno dan Presiden Suharto serta melihat peninggalan Kiyai-Kiyai dari Jepara di Goa Masigit Sela.
Keindahan Pulau Nusakambangan dapat dilihat dengan kasat mata. Dan kita bisa menginjakkan kakinya di sana untuk menghirup udara segar. Secara, di sana belum terlalu banyak kendaraan bermotor apalagi Bajaj dan bus-bus rongsokan yg bikin pengap kaya Kota Jakarta.hehehe…
Kampung terisolasi penuh manipulasi
Kampunglaut yang terdiri atas empat desa merupakan daerah yang terisolir. Tidak ada listrik PLN, tidak ada PDAM, akses menuju informasi sangat jauh. Janji-janji para calon Bupati waktu kampanye Pilkada juga KONYOL! Sampai saat ini di Ujungalang masi gelap gulita! Janji akan teraliri listri belum direalisasikan. Ada juag listrik menggunakan diesel, tapi masyarakat tentu sangat terbebani karena tarif per malam (menyala jam 6.00 sore dan mati jam 11.00 malam) sebesar Rp 5000.
Karena itu pendidikan di sana seba minim. Tidak ada laboratorium. Ada sih, laboratorium alam yaitu Pulau Nusakambangan dan Perairan laguna Segara Anakan. Sekolah-sekolah juga minim, bahkan tidak memiliki perpustakaan umum sekolah.
Di Ujungalang, jangan khawatir barang-barang bawaannya hilang atau dicuri orang, karena di Ujungalang tidak ada maling, copet, apa lagi perampok. Di sana, satu rumah dengan rumah lain, satu orang dengan orang lain sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada rasa saling curiga, tidak ada ancaman dan lain-lain. Itu sebabnya mengapa saya selalu kangen dengan suasana kampunglaut yang damai, nyaman dan aman…….termasuk mereka yang pernah singgaah di Ujungalang…
Filed under: Seputar Kampunglaut | Tagged: Kampunglaut, Nusakambangan, Rasno | Leave a Comment »
